Sudah terbayang sejak sehari sebelumnya apa² yg akan aku lakukan pd
hari ini, Kamis 13072017. Yg pertama adalah shaum sunnah yg mana di sisa bulan
Syawal ini msh blm genap juga menyempatkan diri utk berpuasa 6 hari saja.
Selanjutnya tentu tugas² dan kerjaan di kantor. Selain mengikuti
pembahasan penelitian salah satu teman kerja, berkas² yg mjd prioritas utk
diselesaikan jg sdh ada dlm rencana.
Manusia berrencana, Allah lah yg menentukan. Dari sejak sebelum subuh
sampai pagi ternyata harus bolak-balik ke kamar kecil karena ada hajat yg hrs
ditunaikan gara² diare. Rupanya ada yg tdk beres dgn sistem pencernaan.
Jadilah hari ini hanya gegoleran di rmh saja, sambil berharap &
berdoa agar erupsi dari dalam perut ini segera mampat. Semua program dan
rencana kerja yg sdh dirancang tercancel semua. Daripada hanya sekadar
gegoleran, terpikir untuk menyalurkan hobby saja, ngasal !
Alhamdulillah di rmh ada persediaan obat sbg pertolongan awal utk bbrp
penyakit. Terimakasih untuk istriku atas perhatian dan perawatannya, terutama
atas asupan sirup cinta, pil kasih dan tablet sayangnya.
Tiba² teringat momen 14 thn yg lalu, ketika anak kedua lahir. Situasi
dan kondisi saat itu mengharuskan proses persalinan dilakukan dg jalan
pembedahan secara cesar. Alhamdulillah operasi berjalan dg baik dan lancar.
Baru tahu, ternyata seseorang yg habis dibedah baru boleh makan dan
minum setelah dia bisa buang angin. Mungkin baru kali inilah sesuatu yg
biasanya dihindari justru di tunggu² kedatangannya bukan saja oleh orang ybs
tapi juga orang² disekitarnya.
Lantas apa kaitan antara cerita sakit diare dan operasi cesar di atas?
Tanpa kita sadari dan kalau mau jujur sebenarnya kita tdk bs bertindak,
berkehendak dan mengatur tubuh kita sendiri.
Di saat terserang diare, perut seolah ingin terus² mengeluarkan angin.
Kita pasti tdk menginginkannya dan berharap agar segera berhenti karena
khawatir bukannya angin tapi justru cairanlah yg akan kita keluarkan.
Sebaliknya kita sangat me-nanti² angin keluar dari perut ketika operasi
pembedahan telah selesai krn itulah pertanda proses operasi sdh berhasil.
Tetapi begitulah, kita tdk kuasa menyegerakan dan mempercepatnya.
Untuk hal yg sepertinya sepele tadi saja perlu izin dan kehendak Sang
Maha Kuasa, Allah SWT. Maka untuk hal² lainnya pun pasti ada dan terjadi pada
diri kita karena qodrat dan campur tanganNya.
Lalu jika sudah demikian pantaskah kita membanggakan diri dan bersikap
sombong atas apa yang ada pada diri kita saat ini?
Kata cak Lontong, "Mikir...!"

Keren akhi...
BalasHapus