Hampir empat tahun si Inyonk bekerja di Ibukota, banyak sekali hal baru
yang tidak ia dapatkan selama bekerja di homebase. Salah satunya adalah pengalaman
merasakan moda transportasi yang berragam, mulai dari armada transjakarta yang
murah meriah, layanan kereta dari KRL, LRT, MRT dengan berbagai keunggulan
masing-masing, sampai semakin seringnya menggunakan jasa transportasi online dengan
segala kelebihan dan kekurangannya.
Naik bus bukan barang baru, meskipun memang banyak sekali perbedaan fasilitas,
aksebilitas dan optimalisasi teknologi dalam operasional bus transjakarta ini. Transportasi
berbasis aplikasi online juga sudah tidak asing bagi si Inyonk, meskipun cuma
beberapa kali saja memanfaatkannya. Ke kantor naik kereta ???? Ini benar-benar baru,
khususnya KRL.
Pagi-pagi sebelum matahari bersinar sudah harus bersiap menuju stasiun
terdekat lalu berebut masuk gerbong (sering) hanya untuk berdiri bergantungan
pada handle di bagian atas kereta atau bersandar di pintu samping menjadi sesuatu
yang biasa dan rutinitas kala itu. Kalau lagi rezeki bisa duduk manis di tempat
duduk yang tersisa.
Di situasi dan kondisi itulah Inyonk baru tahu bahwa ternyata untuk
tidur (pulas) tidak memerlukan suasana yang hening, sepi dan jauh dari hiruk
pikuk serta kebisingan. Juga tidak harus disediakan tempat tidur atau kasur yang
empuk untuk rebahan dan tebal juga selimut yang hangat.
Hampir di sepanjang tempat duduk di KRL itu, orang-orang bisa tidur
dengan nyaman bahkan dengan posisi duduk yang tidak ideal di atas busa jok yang
tidak seberapa tebal, tanpa selimut dan tidak terganggu dengan kebisingan suara
mesin kereta serta hentakan roda di setiap sambungan rel yang dilintasi.
Tiba-tiba terdengar bisikan di telinga kiri Inyonk, “Orang-orang itu
hanya pura-pura tidur supaya tidak perlu berbagi ke penumpang yang lebih membutuhkan
dan kebetulan tidak kebagian tempat duduk”.
Baru saja Inyonk mau menganggukkan kepala tanda setuju dan mengiyakan,
ada bisikan lain di telinga sebelah kanannya, “Jangan percaya nYonx, itu namanya su’udzon, tidak baik berprasangka
buruk ke orang lain”.
Lalu Inyonk mendengarkan bisikan yang bersahut-sahutan di telinga kiri
dan kanannya.
Kiri, “Bukan su’udzon, ini fakta. Lihat saja orang-orang yang tidur
itu, sesekali masih berkedip-kedip, bergerak sekadar membetulkan posisi jaket
atau tas dipangkuannya”.
Kanan, ”Apanya yang salah dengan itu?”
Kiri, “Normalnya orang tidur itu, tidak akan tersadar kalau hal-hal
kecil itu terjadi, apalagi itu tuh…ada yang sambil menutup telinganya dengan
earphone, sudah jelas tidak sedang tidur itu, masak tidur sambil dengerin
sesuatu”.
Kanan, “Cari-cari saja itu kamu itu kerjaannya”.
Kiri, ”Apalagi yang sebelah sana itu dekat pintu, anak muda berbadan
tegap, masih sehat anteng saja duduk sambil menganggukkan kepalanya dengan topi
menutup wajahnya, padahal di dekatnya ada ibu-ibu yang berdiri empet-empetan
dengan penumpang lainnya.
Kanan, “Kalau memang mereka benar-benar tidur gimana, hayo?”
Kiri, “Aneh saja, baru masuk, duduk langsung bisa tidur. Nanti begitu
stasiun yang dituju sudah dekat bisa langsung tahu dan tersadar terus bangun”.
Kanan, ”Itu kan hak mereka, karena lebih dulu masuk, ya... bebaslah
dengan tempat duduk yang didapatnya”.
Kiri, ”Hak sih hak, tapi kan ada yang lebih penting dari hak”.
Kanan, “Apa coba?”
Kiri, “Adab dan etika. Lihat saja, banyak tuh orang-orang yang berdiri,
ibu-ibu, bahkan ibu hamil, orang tua, mereka lebih butuh untuk duduk daripada
yang pada tidur. Sampai-sampai banyak poster dan stiker di dinding kereta himbauan
soal itu”.
Stasiun yang dituju sudah hampir sampai. Inyonk bergegas mendekat ke pintu
terdekat dan berlalu meninggalkan bisikan-bisikan di kanan kiri telingannya yang
masih belum usai, untuk turun dari kereta.

Komentar
Posting Komentar