Langsung ke konten utama

Postingan

Tersiksa Jilid II

  Saat itu, saya lupa kapan persisnya. Protokol kesehatan di masjid mulai dilonggarkan. Barisan solat yang sejak pandemi Corona direnggangkan dan berjarak antar jamaah, sudah dirapatkan lagi meskipun masih sebatas sajadah yang dipakai sebagai alas solat saja. Untuk yg membawa sajadah tidak rapat-rapat amat juga, tapi untuk yang tidak, ya berdekatan. Pernah saya tanyakan alasan, pertimbangan dan parameter-parameter yang menjadi dasar pengambilan keputusan tersebut. Namun pelonggaran tadi tetap dilanjutkan meskipun sepertinya tidak ada argumen yang jelas,  meyakinkan dan terukur. Saya sendiri sungguh berat untuk meninggalkan solat berjamaah hanya karena tidak sependapat dengan kebanyakan jamaah yang menginginkan kesempurnaan solat berjamaah dengan merapatkan barisan. Sedikit berkompromi jadinya datang agak nelat-nelat dikit dan menomorduakan untuk mengikuti takbir pertama Imam. Terkadang sampai tertinggal rekaat pertama, apa boleh buat. Tetapi dengan begitu malah bisa tetap me...

Amnesia

  Sebut saja namanya Fulan. Selepas menyelesaikan sekolah di tingkat SLTA ia mesti pindah dan menetap di sebuah kota, dan sementara waktu berpisah dengan keluarganya demi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sebagaimana layaknya seorang yang hidup diperantauan, secara berkala Fulan menerima kiriman sejumlah uang untuk mencukupi keperluan pendidikannya seperti SPP, buku-buku, alat tulis dan lain-lain. Namun tentu tidak itu saja keperluan Fulan, karena ia   juga mesti membayar sewa kost, makan minum sehari-hari, hiburan agar tidak suntuk dan bosan dalam belajar. Orang tua Fulan pun menyadari hal tersebut dan tidak pernah melupakannya. Namun apa daya, setelah beberapa waktu berlalu, orang tua Fulan baru menyadari bahwa uang yang rutin dikirimkan tersebut tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Justru Fulan menghabiskannya untuk keperluan-keperluan yang tidak ada kaitannya dengan proses pendidikan yang sedang dijalaninya. Waktu, energi dan bekal dari orangtu...

Aku Selingkuh (Lagi)

  Sudah tak terhitung lagi hilaf dan salah ini terulang, lagi dan lagi. Entah sudah berapa kali ini aku lakukan, tak teringat lagi. Sejujurnya karena menyangkut aib dan tabiat yang buruk, aku tidak ingin orang lain mengetahuinya. Namun berangkat dari itikad baik agar tidak dilakukan oleh orang lain, akhirnya tergerak untuk berbagi. Seperti saat malam itu. Segera setelah kuhamparkan alas menghadap rumah-Mu, aku niatkan bahwa ini aku lakukan karena-Mu. Namun apa daya, sesaat setelah bacaan takbir terucap dari bibirku, secepat kilat berbagai persoalan dan permasalahan berputar-putar di kepala, mulai dari pekerjaan, anak dan istri di rumah, kejadian di jalan tadi sore, berita penyebaran wabah yang belum terkendali sampai rencana nonton siaran langsung bola nanti malam. Bahkan dari satu hal kecil saja yang awalnya terlintas, akhirnya melebar, sambung-menyambung hingga sampai pada hal-hal yang semula tidak terbayangkan sama sekali. Begitulah… bacaan dan doa-doa terucap dengan lengkap...

Akhir Pekan yg Tdk Biasa

Jumat, 16 Okt 2020 Pagi-pagi ada berita menghebohkan di WA Grup kantor. Salah satu rekan kerja seruangan terkonfirmasi positif Covid-19. Terkejut, deg2an dan bingung mesti bagaimana, campur aduk membacanya. Alhamdulillah atasan segera memberikan intruksi yg jelas dan tegas bahwa pagi itu juga seluruh karyawan seruangan mesti test swab ke salah satu lab di pusat kota. Dari situlah, sblm berangkat ke Lab sy langsung membatalkan satu acara Koperasi di komplek yang semula dijadwalkan pd akhir pekan ini. Sy tdk tahu akan spt apa hasil dari test swab nantinya. Sbg antisipasi kemungkinan terburuk, maka opsi terbaik adalah sy menghindari interaksi dg org lain sampai hasilnya dirilis.   Setelah Test Swab Jadinya siang itu sy tdk menunaikan solat jumat ke masjid dan menggantinya dg dhuhuran di rmh saja, termasuk solat wajib 5 waktu. Di rumahpun hanya banyak gegoleran di salah satu ruangan dan mengurangi kedekatan -dlm arti sebenarnya- dg anak istri. Info hasil test swab keluar it...

Anjungan Beras Mandiri

  SEPENGGAL KISAH Sudah menjadi kebiasaan, hampir setiap malam khalifah Umar bin Khattab melakukan perjalanan diam-diam. Ditemani salah seorang sahabatnya, ia masuk keluar kampung. Ini ia lakukan untuk mengetahui kehidupan rakyatnya. Umar khawatir jika ada hak-hak mereka yang belum ditunaikan oleh aparat pemerintahannya. Suatu malam bersama Aslam, Khalifah Umar berada di suatu kampung terpencil. Kampung itu berada di tengah-tengah gurun yang sepi. Saat itu Khalifah terperanjat. Dari sebuah kemah yang sudah rombeng, terdengar seorang gadis kecil sedang menangis berkepanjangan. Umar dan Aslam bergegas mendekati kemah itu. Setelah dekat, Umar melihat seorang perempuan tua tengah menjerangkan panci di atas tungku api. Asap mengepul-ngepul dari panci itu, sementara si ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang. “Assalamu’alaikum,” Umar memberi salam. Mendengar salam Umar, ibu itu mendongakkan kepala seraya menjawab salam Umar. Tapi setelah itu, i...

UPZ Baitul Mu'min, Selayang Pandang

Baca Juga : Update UPZ per 2020

Kenapa sih kita susah-susah mendukung Palestina

Saya dapat email yang isinya saya kira cukup informatif. Selengkapnya silahkan baca dibawah ini : Kalau ada ribut-ribut di negara- negara Arab , misalnya di Mesir, Palestina, atau Suriah, kita sering bertanya apa signifikansi dukungan terhadap Negara tersebut. Misalnya baru-baru ini ketika Palestina diserang. Ngapain sih mendukung Palestina? Pertanyaan tersebut diatas sering kita dengar, terutama karena kita bukan orang Palestina, bukan bangsa Arab, rakyat sendiri sedang susah, dan juga karena entah mendukung atau enggak, sepertinya tidak berpengaruh pada kegiatan kita sehari-hari. Padahal, untuk yang belum mengetahui.. kita sebagai orang Indonesia malah berhutang dukungan untuk Palestina. Sukarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI de facto pada 17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari...